Adventure

Rabu, 13 Juli 2011

Candi cetho


20-06-2011
Udara sejuk menyelimuti dengan ditemani sepiring gorengan tahu dan tempe beserta sebotol air putih. Nikmat rasanya selagi masih lapar karena pagi harinya telat breakfast. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 kita masih berada di candi Sukuh nan Eksotis
"gapuro cetho"
Tujuan selanjutnya ke candi Cetho. Salah satu candi Hindu yang masih berada di sekitar lereng gunung lawu ini. Arsitektur candi ini mengingatkan kita akan bentuk pura di daerah pulau Bali. Ya karena tak lain candi ini masih aktif digunakan untuk upacara keagamaan bagi umat Hindu sekitar dan dari Bali mayoritas.
Candi Cetho merupakan salah satu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit pada abad ke 15. Terletak di desa Gumeng, Kec Jenawi, Kab Karanganyar pada ketinggian 1400 mdpl. Candi ini tediri dari 13 teras kurang lebihnya. Bangunan candi ini telah melalui beberapa kali pemugaran sehingga bentuk asli dari candi ini serasa hilang, tetapi konsep awal candi yaitu punden berundak masih dipertahankan
Pemugaran ini banyak dikritik oleh pakar arkeologi mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Bangunan baru hasil pemugaran adalah gapura megah di muka, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan patung-patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

"teras pertama"

Rata TengahDibagian depan pengunjung disambut dengan gapura besar, setelah itu baru halaman candi yang merupakan teras pertama. 
Setelah itu masuk ke teras kedua dimana terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat dusun Cetho.
"kura-kura dan phallus"
Pada teras ketiga terdapat tatanan batu yang menyerupai kura-kura raksasa, surya majapahit, dan symbol phallus (“maaf” alat kelamin laki-laki.red) sepanjang kurang lebih 2 meter dan diujungnya terdapat tindik (piercing.red) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta, sedangkan penis merupakan symbol penciptaan manusia….(ehehe pikir sendiri yah.red). Terdapat penggambaran hewan-hewan lain seperti mimi, katak dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada dapat dibaca sebagai “suryasengkala” berangka tahun 1373 Saka atau 1451 era modern.

"teras ke 4"

"relief"

Pada teras selanjutnya yaitu empat, ditemui jajaran batu pada dua datara bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudhamala, kisah ini masih popular dikalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara “ruwatan”. Dua teras berikutnya terdapat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendopo tersebut masih digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara-upacara keagamaan.
"dewi ainum"
"pelataran pendopo"
"pendopo" 

Pada teras ketujuh dapat ditemui dua arca, disisi utara merupakan arca Sabdapalon dan diselatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos yang diyakini sebagai abdi dan penasihat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.
"rumah dewa"
"Nayagenggong"
Pada teras kedelapan terdapat arca “phallus” (disebut “kuntobimo”,red) disisi utara dan arca sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan penghargaan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat.

"rumah dewa"
"kuntobimo"
Teras terakhir ato kesembilan adalah teras tertinggi sebagai tempat pemujaan doa. Didalamnya terdapat batu yang berbentuk kubus. Dan sekarang bangunan candi teratas ini tidak bisa dimasukin secara sembarang orang. Karena merupakan tempat ibadah yang masih digunakan aktif.

"bali"

"bangunan utama candi"

Di belakang kompleks candi ini terdapat arca Dewi Saraswati sumbangan dari kabupaten Gianyar Bali. Dan masih digunakan sebagai tempat beribadah. Untuk menuju ke puri taman Saraswati ini kita harus keluar dari komplek candi melalui pintu samping yang sudah disediakan, karena hari sudah sore gak ada lagi pengunjung yang ke puri kecuali kita berdua. Kita harus melalui jalan setapak yang sudah dibatako dengan lebar kurang lebih 1,5 meter, dan sebagian jalan tanah. Dari kunjunganku pertama dulu pada tahun 2006 candi ini belum banyak terdapat peraturan, mybe karena sekarang sudah benar-benar difungsikan menjadi tempat ibadah.
"jalan ke puri Saraswati dan candi Kethek"

"mo kepuncak lagi?"

"Puri Saraswati" 

"sendang pundisari"

Berjalan kearah utara dari puri saraswati kita menuju ke candi Kethek (kera.red). Untuk mencapai candi ini kita harus menelusuri jalan setapak tak beraspal…”heleh”… maksutnya jalan setapak tanah dipinggir tebing dengan suara alunan music air gemericik dari sebuah curug kecil tak tampak, dan menyeberangi sungai kecil dengan air yg jernih mengalir bak kehidupan…”jiah puitis banget font”…setelah menyeberang kita masih dihadapkan pada tanjakan lumayan curam dengan banyak jalan persimpangan yang harus kita pilih salah satunya. Sampailah kita di candi Kethek. Candi ini serupa dengan punden berundak sekiranya ada 7 teras, yang kebetulan kita nggak berani naik cos waktu dah sore dan …. Ihihihihi sunyi sekali, sepi….


"curug"

"air lawu"

"Candi Kethek"

"sunsetnya malu"

Kita turun menyelusuri jalan awal tadi tapi tidak bisa masuk ke candi lagi karena dah tutup. Seandainya cuaca cerah hari ini kita bisa melihat sunset yang cantik karena di sisi tempat parkir ini serupa dengan bukit pandang yang luas.


by dofont

Tidak ada komentar:

Posting Komentar