Adventure

Senin, 16 April 2018

Pesona pantai Pacitan, secuil surga yang jatuh.




Jalan yang berkelok dan rimbunan pepohonan di sepanjang perjalanan menemani kami menuju ke kota Pacitan. Kota yang dimana Presiden RI ke 6 ini lahir ke dunia 67 tahun yang lalu (2016). Pacitan juga dikenal dengan sebutan kota seribu gua, dikarenakan daerah ini terletak diantara perbukitan karts (pegunungan batu kapur) yang pada akhirnya banyak terdapat gua di daerah ini. Diantara gua yang terkenal adalah gua Gong yang kononnya merupakan gua yang mempunyai stalakmit dan stalaktit terindah di Asia Tenggara. Gua Tabuhan mempunyai batu yang kalau dipukul akan berbunyi seperti alat muzik gamelan. Gua vertikal Luweng Jaran yang sangat luas. Dan masih banyak lagi gua-gua yang lain.

Selain terkenal dengan gua, Pacitan juga terkenal dengan pantainya yang exsotis. Terletak di bagian selatan pulau jawa atau tepatnya di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Pacitan berhadapan langsung dengan laut selatan atau samudera Hindia yang terkenal dengan ombak yang ganas, sehingga tidak heran kalau pantai-pantai di pesisir selatan ini mempunyai kontur yang beragam.

Explore pantai


Muara Sungai Marun Pantai Ngiroboyo
Banyak terdapat pantai yang masuk dalam wilayah Pacitan, salah satunya adalah Pantai Ngiroboyo. Pantai ini terletak di desa Sambi sekitar 2-3 km dari Pantai Klayar. Kalau dari Pacitan kita akan melewati pantai klayar dulu baru kemudian pantai ngiroboyo. Tujuan pertama kita adalah pantai ngiroboyo yang juga mempunyai muara sungai yang tak boleh dipisahkan dari keindahan pantai ini yaitu sungai maron. Untuk menuju pantai ini kita akan melalui jalan yang berbatu dan beralaskan beton yang hanya boleh dilalui satu kreta saja, jadi harus bersabar seandainya berselisih dengan kenderaan lain. Sebelum sampai ke pantai kita akan disuguhkan pemandangan safana berupa padang rumput, bukit dan laut yang kemudian disusul dengan pasir pantai yang luas dan berakhir di muara sungai maron. Pantai ini cukup luas dengan pasir hitam yang mengandung pasir besi. Tapi perlu di ingat bagi kami laut selatan bukan untuk mandi manda berpesta air, tetapi cukup dinikmati keheningan deburan ombaknya. Itu selalu menyenangkan.


  
Jalan Menuju Pantai Ngiroboyo


Pantai dengan butiran-butiran pasir hitam yang halus


Pantai Ngiroboyo


Pantai Ngiroboyo



Tak jauh dari pantai ini sekitar 2 km menuju pantai klayar ada lorong kecil menuju perkebunan warga. Kami lalui lorong itu dengan hati-hati, takut ada kenderaan yang datang dari arah hadapan. Kami parking kreta kami di kebun warga, dan Subhanallah pemandangan dihadapan membentang samudera Hindia yang gagah dan safana dengan rumput yang bergoyang diterpa angin laut. 

Menuju ke Bukit Panorama
Ternyata kami berada di lorong menuju bukit panorama. Sebuah bukit yang dijadikan objek untuk melihat pantai klayar dari atas. Spot menarik di pantai klayar adalah karang serulingnya, yaitu sebuah karang yang saat di terpa ombak dari bawah karang air laut akan menyembur melalui celah ditengah karang dan menimbulkan suara seperti seruling. Semburannya boleh mencecah 10 meter jika kita beruntung menyaksikannya. Sekali lagi jangan harap boleh mandi manda di pantai ini, kontur karang dan ombak yang besar sangat berbahaya untuk bermain air. Telah banyak korban dipantai ini dikarenakan tidak mentaati aturan safety prosedur yang ditetapkan. Tapi keindahan pantai ini memang sangat mengagumkan.

Jalan setapak


Menuju pantai Klayar


Sruling Klayar


Spink?


Savana sebelum bukit panorama


Kita tinggalkan pantai klayar dan bukit panorama, sekarang kita munuju ke pantai Mbuyutan. Teletak di desa Widoro Donorojo sekitar 8 km dari pantai klayar. Pantai ini diibaratkan seperti secuil surga yang jatuh ke bumi. Memang sangat indah, seperti pantai sebelumnya saat memasuki areal pantai kita akan disuguhi perkebunan atau bendang seperti savana dan diakhiri dengan tebing yang tinggi di bawahnya terdapat pantai berpasir putih yang dihiasi beberapa gugusan batu karang di tengah laut. Gugusan-gugusan karang ini ada yang berbentuk seperti perahu dan yang terbesar berbentuk seperti mahkota dewa. 
Paradise Pantai Buyutan
Di pantai ini juga ada fasilitas bilik mandi dan kedai-kedai penjual ais kelapa muda. Maka kami memutuskan untuk bercamping di pantai ini. Warga disini cukup bersahabat, menjelang petang kami meminta ijin kepada pemilik kedai untuk menggunakan bilik mandi sampai esok harinya. Dengan senang hati mereka menyerahkan kunci bilik mandi kepada kita. Sebelum malam datang kami mengumpulkan ranting-ranting pohon yang kering dan sampah daun-daun serta sabut kelapa yang sengaja kita bawa dari pekan untuk membuat api unggun malam itu. Secangkir kopi hangat serta ayam bakar menjadi santapan nikmat. Malam itu cukup beruntung bagi kita karena dapat menikmati angin pantai dan merdunya deburan ombak yang berselimutkan gugusan bintang galaxy bima sakti di langit malam. Malam yang sempurna, perfect.

Tapak ku


Camping site kita


Mandi pagi

Keesokan pagi waktunya untuk bermain air. Dipantai ini kita masih boleh bermesraan dengan air laut meskipun ombak terlihat ganas menantang. Pemandangan didepan kami sangat mengagumkan, terpancang dengan gagah karang mahkota dewa yang tak henti-hentinya di gempur olah ombak samudera Hindia. Pacitan bukan hanya pantai ini sahaja yang ada, tapi masih banyak lagi pantai yang mempunyai ke-exsotisan-nya tersendiri. Ambil ransel mu dan mengembaralah!

Cost
Tak banyak pengeluaran untuk menuju pantai ini secara backpacking.
Dari bandara naik bus Trans Solo menuju Terminal Tirtonadi Solo Rp 5.000
Naik bus Aneka jaya tujuan Pacitan Rp 20.000 hingga Rp 25.000 (lebih kurang)
Lama perjalanan dalam 3-4 jam, jarak tempuh dalam 116km
Rental mpv dalam Rp 300.000 /24 jam. Jarak tempuh dari kota Pacitan menuju pantai dalam 1,5 jam dalam 45km. (lebih kurang)


Persiapan perjalanan.
Backpack beserta perlengkapan camping, ataupun rental perlengkapan camping di kota solo.
Baju pantai yang ringan, tak payah bawa alat snorkling karena memang bukan spot untuk snorkling.
Camera n asesori.
Obat anti mabok kenderaan.
Badan yang sehat.


Minggu, 23 Februari 2014

Kongkow nang Menara Condong Teluk Intan

Minggu malam mungkin adalah waktu yang tepat buat kita keluar menikmati malamnya kota Teluk Intan. Kalau malam minggu tentu kota ini akan sangat ramai dikunjungi orang-orang yang memang menikmati weekend bersama keluarga. Minggu malam ini udara cerah dan sejuk, cocok untuk sekedar kongkow di kota kecil ini. 
"menara condong Teluk Intan"
Menara ini dibangun pada tahun 1885 oleh arsitek Leong Choon Chong. Menara ini sebenarnya adalah tangki air yang berfungsi untuk persediaan air bersih bagi warga sekitar sekaligus sebagai penunjuk waktu dan arah bagi kapal-kapal yang akan berlabuh di kota Teluk Anson (nama dahulu.red). Dahulunya menara ini tidaklah condong, tetapi karena pernah terjadi banjir besar dan tanah disekitar menara kurang setabil maka menara ini condong ke arah barat. Kemiringan atau kecondongan menara ini sering dibandingkan dengan menara Pisa di Italia (sering di sebut di google.red). Menara ini mempunyai ketinggia 25m dan 110 anak tangga gak banget kalo dibandingkan dengan menara Pisa yang tingginya 55m (kata mbah google lagi.red). Kalo dilihat dari luar menara ini seakan mempunyai 8 tingkat tapi sebenarnya hanya mempunyai 3 tingkat kemudian tangki air sampai keatas dan di atas terdapat jam yang angka 4 nya di tulis dengan romawi IIII seperti jam gadang di Bukittinggi (kayaknya memang penulisan angka romawi 4 jaman dulu seperti itu ya?.red). Jam yang terpasang diatas dibeli dari London dari pabrik J.W. Bhenson Ludgatehill

"capture bluss"

"panning yg bikin pening"

"panning"
Selain enak buat nongkrong tempat ini juga asyik buat belajar foto malam hari. Bagi saya yang amatiran ini ya begini nih hasilnya, masih kurang halus. Maklum kamera jadul Canon 1000D.

"light"

"couple"

"bersandar di menara condong"

"berubah-ubah warnanya"
Tempat rekreasi yang simple dan asyik dengan memanfaatkan bangunan tua disertai dengan visualisasi lampu yang cantik. Selamat menikmati minggu malam.
salam.